News

Kabar terbaru dari psobat.org & komunitas psoriasis

psoriasis

Memahami Keparahan Psoriasis: Antara Luas Keparahan Psoriasis dan Dampaknya dalam Keseharian

Dirangkum dari kegiatan World Psoriasis Day 2022, Yayasan Sobat Psoriasis Nusantara dalam rangkaian kegiatan webinar bertajuk Psoriasis Dan Mental Health

Psoriasis adalah penyakit autoimun kronis yang menyerang kulit dan sendi. Salah satu cara untuk menilai keparahan kondisi ini secara medis adalah melalui BSI (Body Surface Involvement) atau BSA (Body Surface Area)—yaitu seberapa banyak permukaan tubuh yang terdampak oleh lesi psoriasis. Meskipun pengukuran ini penting secara klinis, hal tersebut belum tentu mencerminkan sepenuhnya pengalaman individu yang mengalaminya dalam kehidupan sehari-hari.

Apa Itu BSA dalam Psoriasis?

Dalam penilaian medis, psoriasis biasanya dikategorikan berdasarkan luas area yang terkena:

  • Ringan: kurang dari 3% permukaan tubuh
  • Sedang: 3% hingga 10%
  • Berat: lebih dari 10%

Untuk memudahkan, 1% dari permukaan tubuh kira-kira setara dengan ukuran telapak tangan pasien Namun, meskipun lesi hanya muncul di area kecil seperti wajah atau tangan, dampaknya bisa jauh lebih besar secara psikologis dan sosial.

Persepsi Keparahan: Lebih dari Sekadar Ukuran

Individu yang mengalaminya sering merasakan dampak yang jauh lebih besar dari yang terlihat. Persepsi keparahan penyakit ini sangat subjektif dan dapat di pengaruhi oleh banyak faktor:

  • Lokasi lesi: Lesi di wajah, kulit kepala, tangan, atau alat kelamin bisa mengganggu rasa percaya diri dan kenyamanan, meski ukurannya kecil.
  • Rasa gatal dan nyeri: Gejala ini bisa mengganggu tidur, aktivitas fisik, hingga konsentrasi.
  • Gangguan sosial dan emosional: Banyak individu yang mengalaminya merasa malu, takut dikucilkan, atau mengalami kecemasan dan depresi.
  • Keterbatasan aktivitas: Tak sedikit individu yang mengalaminya menghindari berenang, olahraga, atau interaksi sosial karena takut terlihat orang lain.

Mengapa Persepsi Pasien Penting dalam Pengobatan?

Dalam praktiknya, sering terjadi perbedaan antara penilaian dokter dan pengalaman pasien psoriasis: Individu yang mengalaminya mungkin merasa penyakitnya “parah” karena efek emosional, meskipun secara medis dikategorikan ringan. Dokter bisa saja meremehkan kondisi pasien karena melihat lesi kecil dan BSA yang rendah. Jika persepsi ini tidak diselaraskan, bisa muncul berbagai masalah, seperti:

  • Ketidakpuasan terhadap pengobatan
  • Putus obat atau tidak patuh pada terapi
  • Kualitas hidup yang tetap buruk meski secara medis dinyatakan “membaik”

Solusi Pendekatan Pengobatan yang Holistik Oleh karena itu, Penting bagi tenaga medis untuk tidak hanya menilai keparahan berdasarkan skor BSA atau PASI, tetapi juga menggunakan alat bantu seperti DLQI (Dermatology Life Quality Index) untuk mengukur kualitas hidup individu yang mengalaminya. Individu yang mengalaminya juga didorong untuk terbuka menyampaikan keluhannya, termasuk soal perasaan, kecemasan, dan harapan terhadap pengobatan.

Dengan demikian, penanganan psoriasis bisa menjadi lebih menyeluruh—bukan hanya menyembuhkan kulit, tapi juga meringankan beban psikologis dan sosial. Psoriasis bukan hanya penyakit kulit. Keparahannya tidak bisa diukur dari luas keparahanya saja, tapi juga dari seberapa besar pengaruhnya terhadap hidup seseorang.

Dalam pengobatan, memahami suara individu yang mengalaminya sama pentingnya dengan menganalisis kondisi fisiknya. Pendekatan ini adalah kunci menuju perawatan yang lebih manusiawi dan efektif.

Source : • WPD 2022

Yayasan Sobat Psoriasis Nusantara

Bagikan